Bulan suci Ramadhan 2026 kembali menjadi momentum penting bagi umat Islam untuk memperkuat iman dan memperdalam makna kehidupan. Di tengah derasnya arus digitalisasi yang kian tak terbendung, kebutuhan akan ruang dialog yang menyejukkan, relevan, dan membumi menjadi semakin krusial. Menjawab kebutuhan tersebut, PJ TV menghadirkan salah satu program unggulannya bertajuk NGOPI (Ngobrol Perihal Iman), sebuah program talkshow religi yang akan tayang khusus selama bulan Ramadhan 2026.
Program NGOPI bukan sekadar acara bincang-bincang biasa. Dengan konsep santai namun sarat makna, NGOPI hadir sebagai ruang refleksi bersama, mengajak pemirsa untuk menata ulang relasi antara iman, kehidupan modern, dan tantangan zaman digital. Nama “NGOPI” sendiri sengaja dipilih karena dekat dengan keseharian masyarakat—sebuah simbol obrolan ringan yang justru sering melahirkan pemikiran-pemikiran mendalam.
Salah satu episode yang paling dinantikan menghadirkan narasumber utama Ustadz Ayi Rudiana, M.Pd, Kepala MTs Al Marwah Pameungpeuk, Kabupaten Bandung. Sosok yang dikenal sebagai pendidik sekaligus dai ini akan mengulas tema sentral “Menanamkan Iman di Tengah Digitalisasi.” Tema ini dinilai sangat relevan, terutama di era ketika gawai nyaris tak pernah lepas dari genggaman, dan dunia maya kerap lebih ramai dibandingkan dunia nyata.
Acara NGOPI dipandu oleh K. Asep Tapip, host yang dikenal dengan gaya komunikasinya yang hangat, kritis, dan komunikatif. Dengan pendekatan yang cair namun tetap berisi, K. Asep Tapip mampu menghidupkan diskusi sehingga terasa dekat dengan realitas pemirsa dari berbagai kalangan—mulai dari remaja, orang tua, hingga pendidik.
Dalam perbincangan tersebut, Ustadz Ayi Rudiana menyoroti bagaimana digitalisasi membawa dua sisi mata pisau. Di satu sisi, teknologi membuka akses luas terhadap ilmu pengetahuan, termasuk ilmu agama. Ceramah, kajian, hingga diskusi keislaman kini dapat diakses hanya dengan beberapa sentuhan layar. Namun di sisi lain, derasnya arus informasi tanpa filter berpotensi menggerus nilai-nilai keimanan, terutama jika tidak diimbangi dengan literasi digital dan pendampingan yang tepat.
“Digital itu netral, manusialah yang menentukan arahnya,” ungkap Ustadz Ayi dalam salah satu segmen diskusi. Menurutnya, tantangan utama bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada kemampuan individu dan keluarga dalam menanamkan fondasi iman yang kuat sejak dini. Tanpa pondasi tersebut, generasi muda akan mudah terombang-ambing oleh konten yang menyesatkan, budaya instan, serta nilai-nilai yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Sebagai seorang pendidik, Ustadz Ayi juga menekankan pentingnya peran sekolah dan lembaga pendidikan dalam merespons era digital. Pendidikan agama tidak lagi cukup disampaikan secara tekstual, tetapi harus kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Guru dan orang tua dituntut untuk melek teknologi, agar mampu menjadi pendamping, bukan sekadar pengawas.
K. Asep Tapip, selaku pemandu acara, dengan cermat menggiring diskusi ke arah yang aplikatif. Ia mengajak narasumber untuk membahas langkah-langkah konkret dalam menanamkan iman di tengah digitalisasi, mulai dari membangun kebiasaan ibadah di rumah, membatasi penggunaan gawai secara bijak, hingga memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah yang kreatif dan positif. Diskusi pun mengalir dinamis, sesekali diselingi humor ringan yang membuat suasana tetap segar tanpa mengurangi esensi pesan.
Program NGOPI juga menyoroti fenomena sosial yang kini marak terjadi, seperti krisis keteladanan di media sosial, budaya pamer (flexing), serta kecenderungan mencari validasi digital. Dalam konteks ini, iman berperan sebagai kompas moral yang membantu seseorang memilah mana yang patut diikuti dan mana yang sebaiknya ditinggalkan. Pesan ini menjadi sangat relevan, terutama bagi generasi muda yang tumbuh bersama algoritma dan notifikasi.
Menariknya, NGOPI tidak hanya berbicara pada tataran konsep, tetapi juga menyentuh realitas keseharian masyarakat. Ustadz Ayi menegaskan bahwa menanamkan iman tidak selalu harus melalui ceramah panjang, melainkan bisa dimulai dari hal-hal sederhana: memberi contoh akhlak yang baik, membangun komunikasi yang hangat dalam keluarga, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dalam aktivitas sehari-hari, termasuk di ruang digital.
Sebagai program Ramadhan, NGOPI dirancang untuk menjadi teman kaum muslim pada saat menjalankan ibadah puasa. Dengan durasi yang pas dan pembahasan yang aktual, program ini diharapkan mampu menjadi oase spiritual di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern. PJ TV sendiri menaruh harapan besar pada NGOPI sebagai salah satu program yang tidak hanya informatif, tetapi juga transformatif.
Dukungan terhadap program NGOPI juga datang dari berbagai pihak, salah satunya Peci Manis HM Toha Bandung. Sebagai brand lokal yang konsisten mengangkat nilai-nilai tradisi dan religiusitas, Peci Manis HM Toha melihat NGOPI sebagai program yang sejalan dengan visinya dalam merawat identitas dan nilai keislaman di tengah perubahan zaman. Dukungan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara media dan pelaku usaha lokal dapat melahirkan konten yang berkualitas dan berdampak positif bagi masyarakat.
Kehadiran sponsor lokal juga menegaskan bahwa dakwah dan nilai keimanan dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi umat. Di tengah dominasi brand besar, keterlibatan Peci Manis HM Toha Bandung menjadi angin segar sekaligus inspirasi bagi UMKM lain untuk turut berkontribusi dalam program-program yang bernilai edukatif dan spiritual.
Secara keseluruhan, NGOPI (Ngobrol Perihal Iman) hadir sebagai refleksi zaman—sebuah ikhtiar untuk menjaga nyala iman agar tetap terang di tengah gelombang digitalisasi. Dengan narasumber yang kompeten, host yang komunikatif, serta dukungan berbagai pihak, program ini diharapkan mampu menjadi ruang belajar bersama yang inklusif dan relevan.
Ramadhan 2026 pun menjadi lebih bermakna dengan hadirnya NGOPI di layar PJ TV. Sebuah ajakan sederhana namun mendalam: mari duduk sejenak, ngobrol perihal iman, dan menata kembali arah hidup di tengah dunia yang terus bergerak cepat. Karena di era serba digital, iman bukan untuk ditinggalkan, tetapi justru untuk dikuatkan.

1 Komentar
Keren kang
BalasHapus